Sabtu, 30 Agustus 2014

MENGINTIP PENINGGALAN SEJARAH DI DESA TAMANBALI

Tamanbali Raja Dipercaya Dihuni Ular Berkepala Tiga


Selain patung babi, kerajaan Tamanbali juga meninggalkan sebuah taman yang disebut Tamanbali Raja. Taman ini berada ditengah lingkungan persawahan dan areal taman terdapat kolam yang cukup luas. Tamanbali Raja, dulu merupakan taman yang digunakan para raja dan keluarga ntuk beristirahat. Tepat pada jalur jalan menuju Banjar Sidawa, Sembung menuju Lingkungan Sedit, Bebalang, Bangli. Jalan menuju lokasi juga tergolog cukup bagus. Sementara untuk menuju kolam, pengunjung harus menelusuri jalan setapak yang ditata sedemikian rupa.
            Pemandangan alam di sekitar lokasi tergolong sejuk, dan pemandangan sekitar Tamanbali Raja, tergolong eksotik. Meski pemandangan alam begitu nan indah. Namun suasana angker di areal kolam itu cukup terasa. Warga disekitar pun tidak berani berbuat macam-macam disekitar kolam. Apalagi di ujung timur terdapat sebuah pura yang berdiri cukup megah. Pura ini dinamakan Pura Taman, yang diempon oleh Banjar dadia Tamanbali.
            Berdasarkan cerita sejumlah warga disekitar Tamanbali Raja, sekitar tahun 1970 pernah ada kejadian yang menggemparkan warga Desa Tamanbali. Dimana, saat itu dua orang pemuda tenggelam di kolam itu. Keduanya mandi bersama di kolam, meski sebelumnya warga pantang untuk mandi di kolam itu. Mayat kedua pemuda itu lama tidak muncul sehingga mengundang kepanikan warga. Dan, saat kepanikan itu, ada seorang warga yakni Pekak Receh, nekat untuk menyelam. “Kejadian itu sangat mencekam dan menggegerkan,”kenang AA. Aryawan, salah seorang tokoh Puri Tamanbali, saat ditemui tim berita dirumahnya, belum lama ini.



            Kenang AA. Aryawan, pada kesempatan itu Pekak Receh,berhasil menemukan dua pemuda belia itu menyangkut didasar kolam. Tidak berselang lama, mayat kedua korban berhasil diangkat ke darat. Namun yang mencengangkan, kata Aryawan, adalah cerita dari Pekak Receh. Dimana, dalam penyelamannya itu, dia menemukan adanya ular berkepala tiga didasar kolam. Satu kepalanya mengarah ke barat, yang lainnya mengarah ke timur dan satu lagi mengarah ke selatan. “Dari kejadian itu, kami di Desa Tamanbali pantang untuk melakukan hal-hal aneh, apalagi mandi di kolam tersebut” ceritanya.
            Selain pantang mandi, kata dia, warga juga pantang mancing di kolam tersebut. Warga pada umumnya sangat takut dengan kejadian aneh-aneh apabila mengambil ikan dari kolam itu. Selain keanehan itu, tutur Aryawan, kolam tersebut idak dialiri air dari irigasi persubakan. Meski air subak sedang kering, air kolam tetap tidak surut. “Konon mata airnya ada ditengah-tengah kolam” katanya.
            Menurut pria yang juga menjabat Perbekel Desa Tamanali ini, Tamanbali Raja, dulu sempat dikemas menjadi objek wisata oleh Pemkab Bangli. Namun sayang, belakangan ini perhatian dari Pemkab Bangli tidak ada. Bahkan, sejumlah fasilitas seperti bale bengong yang dibangun disekitar kolam keadaannya sangat memprihatinkan. “Peminat warga untuk mengunjungi Tamanbali Raja tergolong tinggi, namun sayang kini tidak terawat lagi” pungkasnya.


Jumat, 29 Agustus 2014

POTENSI DESA TAMANBALI

1. Sumber Daya Alam
Desa Tamanbali merupakan salah satu dari 5 Desa di Wilayah Kecamatan Bangli, yang terletak 4 Km ke arah Selatan dari kota Kecamatan. Desa Tamanbali mempunyai luas wilayah seluas 657,00 Ha/M2. Iklim Desa Tamanbali, sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim Kemarau dan Penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Tamanbali Kecamatan Bangli.

2. Sumber Daya Manusia 
Desa Tamanbali mempunyai jumlah penduduk laki-laki 3253: jiwa, perempuan: 3516 Jiwa, jumlah kepala keluarga (KK): 1850, yang terbesar dalam 10 Banjar Dinas. Jumlah RTM: KK (Berdasarkan data PPLS 2011)
Tingkat pendidikan masyarakat Desa adalah sebagai berikut:

Tidak Tamat SD
SD
SMP
SLTA
S1
S2
340
981
759
1307
164
14

3. Potensi Seni dan Budaya
a. Potensi Seni Pertunjukan
Di Desa Tamanbali mempunyai seniman yang terkenal, yang bisa dikatakan sebagai seniman alam dan di Desa Tamanbali juga memiliki seniman akademik. Potensi masyarakat di Desa Tamanbali cukup baik, generasi muda sangat antusias mempelajari seni tari dan seni kerawitan.
b. Potensi Seni Rupa
Desa Tamanbali dalam bidang seni rupa memiliki banyak potensi untuk dikembangkan dalam bidang seni rupa, mengingat letak geografis yang cukup strategis berada di dekat perkotaan. Beberapa potensinya adalah dalam bidang seni ukir, seni lukis, seni landscaper (seni pertamanan) dan antusias yang tinggi dari anak-anak Desa Tamanbali untuk mengembangkan bakat mereka dalam bidang menggambar dan mewarnai, pembuatan keramik, fotografi dan desain.

SEJARAH DESA TAMANBALI, BANGLI


Menurut Bhetara Leluhur Dharma Putra (anak angkat) history Tamanbali, WMGTH (Warga Maha Gotra Tirta Harum) – 1 Dharma Putra (anak angkat), 2 anak biologis, dating ke Bali 1350 M, bersama Adipati Majapahit, Sri Kresna Kepakisan (Dalem Semprangan), setelah meninggal bergelar, Bhatara Dalem Siladri/Bhatara Dalem Bakas/Bhatara Batumadeg/Bhatara Tirta Harum.
Bhetara Leluhur Rupaka (Anak Biologis) kembali tiba di Bali tahun 1380 M, leluhur MGWTH, Sang Hyang Wisnu Buana/Ida Ratu sakeng Majapahit/Bhatara Guru/Sri Ayu Murub/Sang Ratu Madeg ring Wilwe Tika, pasraman Tengaling, tugas mendampingi (ngemban) dalem Gelgel I (pertama).
Dikisahkan Raja Wengker dari Kerjaan Majapahit, mendapat seorang istri persembahan dari Raja Gelgel I, yang bernama Dewi Njung Hasti/Dewa Ayu Mas Gegelang. Yang merupakan anak dari Sang Pandia Wawau Rauh/Sang Hyang Subali, kakak dari Sang Jaya Rembat. Raja Wengker dan Dewi Njung Hasti mempunyai anak yang diberi nama Sang Angga Tirta.  Tatkala Raja Wengker kembali ke Majapahit, Sang Angga Tirtadi Dharma Putra diangkat oleh Sang Jaya Rembat, pada bekas Pesraman Beliau mendirikan Pura Dalem Tengaling.
Sang Angga Tirta Menurunkan Dinasti WMGTH, yang didalamnnya ada 3 Dinasty Kerajaan, yaitu
1.      Dinasty Kerajaan Tamanbali (1524 -1809)
2.      Dinasty Kerajaan Nyalian ( 1556 – 1780 )
3.      Dinasty Kerajaan Bangli ( 1516 – 1945 )
Sang Angga Tirta, pendiri (Wangsangkara) WMGTH, menurunkan 4 orang anak, yaitu I Gede Putu/Sang Anom, Sang Telabah/I Gusti (Kyai) Telabah diangkat menjadi Anglurah Kuta Badung, Sang Rurung dan Sang Anjingan.
Sang Anom, putra sulung Sang Angga Tirta, diangkat menjadi Mance di Tamanbali, pada tahun 1524 oleh dalem Batur Enggong (Raja Gelgel) dan mendapat gelar I Dewa Manca Tamanbali. Beliau menurunkan 5 orang anak, yaitu I Dewa Gede Perasi, I Dewa Pindi, I Dewa Kaler, I Dewa Ngurah Pemecutan.
I Dewa Gede Pering menjadi Mance di nyalian. I Dewa Gede Perasi diangkat menjadi Mance di Bangli dan diberi gelar I Dewa NgurahDenbencingah. I Dewa Pindi di tempatkan di Puri Gaga, selanjutnya dipindahkan ke Puri Sidan. I Dewa kaler yang bergelar Nayakan saat itu membawa Panjaknya yang berjumlah 100 kepala keluarga, ke Desa Getakan sehingga ia mendapat gelar I Dewa Ngakan Getakan, Nayakan, Ngakan yang arinya Pemimpin. Sedangkan I Dewa Ngurah Pemecutan menjadi Raja Tamanbali II.
Dikisahkan Ida dalem Sang Hyang Subali dari Pura Dalem Karangasem membuat taman yang sama keberadaannya seperti yang ada di majapahit yang diberi nama Tamanbali. Sang hyang aji mempunyai seorang anak I Dewa Ayu Mas Kuning.
1350 SM Kerajaan Gelgel masuk te Tamanbali (masih berbentuk Manca), dikisahkan Raja Dewa Angga Tirta sakit dan berobat ke Tamanbali karena Tamanbali termasyur akan pengobatannya. Terjadi jalinan asmara antara I Dewa Ayu Mas Kuning dengan I Dewa Gede Angga Tirta. Peristiwa ini didengarlah oleh Ida Sang Hyang Subali dan beliau turun untuk menangani permasalahan ini dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Sang Hyang Subali kemudian menikahkan Dewa Gede Angga dengan I Dewa Ayu Mas Kuning. I Dewa Gede Angga kemudian memerintah di kerajaan Tamanbali dan dikaruniai anak yang banyak. Pada tahun 1936 dikatakan Desa Tamanbali sudah ada.